Kabarnews.net, Tulungagung- Dari kejauhan, tenda kecil di sudut Alun-alun Tulungagung tampak biasa saja. Bukan lapak pedagang kaki lima, melainkan posko rakyat. Dari tempat sederhana itu, lahir sebuah gerakan yang menamakan diri mereka “Pejuang Gayatri.”
Nama ini diambil dari semangat sejarah masa lalu, kini hidup kembali dalam wajah rakyat biasa. Ada petani dari lereng gunung, buruh migran yang pulang dengan cerita getir, hingga warga kota yang jenuh melihat ketimpangan sosial.
“Ini semua berasal dari antusiasme warga. Tidak ada kepentingan politik, tidak ada tunggangan,” tegas Donny Docken, salah satu koordinator lapangan, saat ditemui di posko donasi.
Dukungan mengalir dalam bentuk sederhana. Uang sumbangan dititipkan, begitu pula air mineral, pisang, hingga ubi dari pegunungan. Semua itu jadi bukti bahwa gotong royong rakyat masih nyata bukan slogan kosong, melainkan praktik keseharian.
Aksi damai dijadwalkan berlangsung pada 11 September 2025. Salah satu pemantik keresahan adalah pembangunan makam modern di Desa Ngepoh, Kecamatan Tanggunggunung. Proyek tersebut dinilai bermasalah secara hukum dan melukai rasa keadilan masyarakat setempat.
“Ini soal tanah, ini soal keadilan yang diinjak-injak,” ucap Donny tegas, Selasa(9/9).
Pejuang Gayatri juga membawa persoalan nasional, reforma agraria, transparansi kinerja pemerintah, hingga pembenahan birokrasi.
Pengamanan dan Antisipasi Provokasi
Perkiraan massa mencapai seribu orang. Panitia menyiapkan strategi pengamanan internal: masker dilarang, topi wajib dibalik, dan tanda pengenal khusus hanya dibagikan saat hari-H.
“Kami ingin menjaga agar aksi ini tetap murni dan damai. Fokus kami bukan jumlah massa, tetapi pesan yang ingin disampaikan,” ujar Donny.
Aksi akan dimulai dari GOR Lembupeteng, bergerak menuju kantor ATR/BPN, lalu berakhir di gedung DPRD Tulungagung.
“Kami bukan siapa-siapa. Kami hanya rakyat yang tidak ingin terus dibungkam. Gerakan ini milik semua orang yang masih peduli,” pungkasnya.
( red)
